KPU Karanganyar Simak Drama Politik saat Diskusi Film The Candidate
KARANGANYAR – KPU Kabupaten Karanganyar menyimak kegiatan Kajian Hukum Rutin Kamis Sesuatu Seri 44 yang diselenggarakan oleh KPU Provinsi Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026). Kegiatan ini diikuti oleh KPU Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah sebagai bagian dari penguatan advokasi hukum pemilu melalui diskusi film bertema politik. KPU Karanganyar diwakili oleh Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan beserta Subbagian Teknis Penyelenggaraan Pemilu dan Hukum.
Ketua KPU Jawa Tengah, Handi Tri Ujiono menyampaikan bahwa Kamis Sesuatu merupakan komitmen jajaran KPU Jawa Tengah untuk tetap produktif dalam meningkatkan kapasitas kelembagaan, khususnya di bidang hukum dan pengawasan.
“Hari ini adalah komitmen kita untuk tetap melaksanakan tugas kita. Work from anywhere bukan berarti libur, tetapi tetap produktif menjalankan kegiatan dan melaksanakan tugas-tugas kita,” ujar Handi Tri Ujiono.
Handi menjelaskan bahwa diskusi film The Candidate merupakan bagian dari inovasi dalam kegiatan Kamis Sesuatu untuk membedah pesan-pesan politik dan pembelajaran yang dapat diambil oleh penyelenggara pemilu.
“Film ini masih relevan untuk dilakukan analisa pembelajaran terhadap pesan yang disampaikan, karena film ini merupakan satir politik yang cukup populer dan mengandung banyak pelajaran,” tambahnya.
Anggota KPU Kabupaten Semarang, Siti Solikhah sebagai pemateri yang membahas film The Candidate sebagai bahan advokasi hukum pemilu. Dalam pemaparannya, Siti Solikhah menjelaskan bahwa film The Candidate merupakan drama politik satir yang menggambarkan kampanye senator di Amerika Serikat dan menyoroti pergeseran politik dari idealisme menuju kompromi politik.
“Film The Candidate menggambarkan seorang pengacara idealis yang mencalonkan diri tanpa harapan menang, namun perlahan kehilangan jati dirinya karena tuntutan politik praktis dan strategi kampanye,” jelas Siti Solikhah.
Siti menyebutkan tokoh utama bernama Bill McKay awalnya merupakan sosok idealis yang membela rakyat kecil, namun tekanan politik, strategi pencitraan media, dan tuntutan memenangkan pemilu membuatnya harus menyesuaikan diri dengan realitas politik.
“Tekanan politik, strategi, pencitraan media, serta tuntutan menarik simpati pemilih perlahan mengubah cara berkampanye dan membuat kandidat menyesuaikan diri dengan permainan politik yang penuh kompromi,” ungkap Siti.
Lebih lanjut, Siti Solikhah menguraikan beberapa permasalahan utama dalam film tersebut, antara lain konflik antara idealisme dan realitas politik, dominasi pencitraan dalam kampanye, pengaruh konsultan politik, serta kebingungan kandidat setelah memenangkan pemilu. Permasalahan utama dalam film The Candidate adalah konflik batin antara idealisme dengan realitas dunia politik yang penuh strategi dan kompromi.
Siti menambahkan bahwa keberhasilan seorang kandidat (dalam pemilu di Indonesia seperti semacam Dewan Perwakilan Daerah-red) sering kali ditentukan oleh kemampuan membangun citra di media dibandingkan dengan substansi program yang ditawarkan.
“Keberhasilan seorang kandidat seringkali ditentukan oleh kemampuan membangun citra di media daripada penyampaian program atau gagasan secara substansial,” jelasnya.
Pada bagian akhir film, tokoh utama justru mengalami kebingungan setelah memenangkan pemilihan, yang menjadi simbol ironi politik modern.
“Ketika calon memenangkan pemilihan, justru muncul kebingungan mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya sebagai pejabat publik,” ungkap Siti Solikhah.
Dari diskusi film tersebut, disampaikan bahwa penyelenggara pemilu memiliki peran penting dalam menjamin pemilu yang jujur dan adil, mengawasi kampanye, menjaga kesetaraan antar kandidat, serta memastikan transparansi informasi kepada publik.
“Sebagai penyelenggara pemilu, kita harus menjamin pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil, mengatur dan mengawasi kegiatan kampanye serta menjaga integritas dan netralitas proses pemilu,” tegasnya.
Selain itu, film ini juga memberikan pesan kepada masyarakat agar menjadi pemilih yang cerdas dan tidak mudah terpengaruh oleh pencitraan politik semata. (TNT)